2 Comments

Pengertian Citra Satelit

Pengertian Citra Satelit

Pengertian Citra Satelit

DAPATKAN DATA CITRA SATELIT RESOLUSI SANGAT TINGGI PLEIADES-1A BESERTA PENGOLAHAN DAN MAPPING DENGAN KUALITAS TERBAIK & HARGA YANG KOMPETITIF DI MAP VISION INDONESIA

UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI KAMI PADA NOMOR TELEPON: 0857 2016 4965 | E-MAIL: mapvisionindonesia@gmail.com

Pada postingan kali ini kami akan membahas cukup lengkap mengenai pengertian citra satelit serta pengetahuan lainnya yang terkait citra satelit. Selamat membaca.

Citra Satelit

Citra satelit adalah gambaran permukaan bumi yang direkam oleh sebuah satelit yang berada di luar angkasa berjarak ratusan kilometer dari paras bumi.

Citra satelit yang akan dibahas kali ini yaitu citra satelit yang dihasilkan oleh satelit penginderaan jauh, yang berdasarkan misinya dibagi menjadi satelit sumber daya alam dan satelit cuaca/meteorologi.

Untuk postingan kali ini, kami hanya akan membatasi pembahasan pada data citra satelit yang dihasilkan oleh satelit sumber daya alam.

Citra Satelit Hasil Perekaman Satelit Sumber Daya Alam

Berdasarkan sumber energi sensor pada satelit, satelit sumber daya alam dikategorikan menjadi dua bagian yaitu sensor pasif dan sensor aktif.

Sensor pasif merupakan sensor dengan sumber energi berasal dari luar sensor itu sendiri, biasanya menggunakan energi dari matahari atau sumber panas lainnya. Prinsip kerja satelit dengan sensor pasif ini yakni merekam pantulan, pancaran, dan hamburan balik gelombang elektromagnetik dari berbagai objek di permukaan bumi dengan sumber energi yang berasal dari matahari atau sumber panas lain.

BACA JUGA:

1). Apa Itu Citra Satelit?

2). Citra Foto Udara

3). Citra Satelit Resolusi Tinggi

4). DEM Gratis dari ESA

5). Citra Satelit Analisis Keberadaan Kim Jong Un

Berbeda dengan satelit sensor pasif yang mengandalkan sumber energi dari pihak “luar”, maka satelit dengan sensor aktif menghasilkan sumber energinya sendiri.

Saat ini begitu banyak satelit sumber daya alam dengan sistem sensor pasif dan aktif yang beroperasi di luar angkasa, baik untuk kepentingan komersial (biasanya dimiliki dan dioperasikan oleh perusahaan swasta) ataupun gratis (yang biasanya dimiliki dan dioperasikan oleh badan antariksa suatu negara).

Citra Satelit dari Satelit Sensor Pasif

Telah dipaparkan sebelumnya pengertian mengenai satelit dengan sensor pasif, dan berikut ini merupakan beberapa contoh citra satelit yang dihasilkan dari satelit dengan sistem sensor pasif tersebut, yakni sebagai berikut:

1). WorldView-4

worldview 4

Data Olahan Citra Satelit WorldView-4 Warna Natural Wilayah Kepulauan Riau Skala 1 : 1.500
(Image Copyright : Maxar Technologies; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Citra Satelit WorldView-4 saat ini merupakan salah satu citra yang memiliki resolusi spasial tertinggi yang dijual secara komersial yakni 31 cm pada posisi nadir, dengan resolusi spektral terdiri dari 4 band yang berada pada spektrum elektromagnetik cahaya tampak (visible) untuk band merah, hijau, dan biru, serta pada spektrum elektromagnetik inframerah dekat (near infrared).

worldview 4 spesifications

Namun sayangnya saat ini data Citra Satelit WorldView-4 yang tersedia hanyalah data arsip dari akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2019, berhubung Satelit WorldView-4 yang dibuat dengan perkiraan biaya mencapai 650 juta USD tersebut, mengalami kerusakan pada bagian Control Moment Gyros (“CMGs”) pada bulan Januari 2019, yang membuat Satelit WorldView-4 harus “pensiun dini”.

BACA JUGA: Satelit dengan Biaya Pembuatan Selangit Itu Sekarang Mengalami Kerusakan

2). WorldView-3

citra satelit worldview 3

Citra Satelit WorldView-3 Wilayah Candi BorobudurJawa Tengah dalam Skala 1 : 1000 (Image Copyright: Maxar Technologies; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Praktis saat ini hanya Satelit WorldView-3 yang merupakan satelit penghasil citra dengan resolusi spasial tertinggi yang mencapai 31 cm pada posisi nadir, setelah “saudara mudanya” yakni Satelit WorldView-4 telah “gugur” setelah hanya beroperasi selama 2 tahun lebih beberapa bulan.

Satelit WorldView-3 juga saat ini dapat dikatakan sebagai satelit sumber daya alam paling canggih untuk kategori satelit penghasil resolusi spasial sangat tinggi, karena selain dilengkapi 1 band pankromatik dan 8 band multispektral dalam spektrum elektromagnetik cahaya tampak (visible) dan inframerah dekat (near infrared), juga dilengkapi 8 band multispektral dalam spektrum elektromagnetik Shortwave Infrared (SWIR), serta 12 band multispektral dalam spektrum elektromagentik Clouds, Aerosols, Vapors, Ice, & Snow (CAVIS).

worldview 3 spesifications

Manfaat dari keberadaan bandband SWIR pada Citra Satelit WorldView-3 yaitu untuk melihat lebih jelas berbagai objek pada area di citra satelit yang tertutup oleh awan tipis, kabut, ataupun asap, kemudian memudahkan dalam melakukan identifikasi titik-titik api pada sebuah area yang terbakar, seperti contohnya dapat dilihat di bawah ini:

worldview 3 spatial resolution

Visible & SWIR

Gambar animasi di atas memperlihatkan, bagaimana sebuah data citra satelit yang dilihat menggunakan band SWIR akan “menghilangkan gangguan” berupa asap yang menghalangi kenampakan objek-objek pada citra satelit yang dilihat pada band visible (cahaya tampak), sehingga nantinya objek-objek pada data citra satelit tersebut akan terlihat lebih jelas.

Sedangkan tujuan penyematan sensor CAVIS pada Satelit WorldView-3 yaitu untuk memonitor keadaan atmosfer dan menyediakan data koreksi untuk meningkatkan tampilan Citra Satelit WorldView-3 yang terhalang oleh kabut, asap, awan tipis, ataupun gangguan di atmosfer lainnya, serta agar tampilan Citra Satelit WorldView-3 lebih selaras (seamless), seperti diperlihatkan di bawah ini:

worldview 3 spectral bands

CAVIS

BACA JUGA:

3). WorldView2

citra satelit worldview 2

Data Olahan Citra Satelit WorldView-2 Wilayah Kota DarubaPulau Morotai (Image Copyright: Maxar Technologies; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Inilah data citra satelit resolusi sangat tinggi yang cukup populer di Indonesia, karena Satelit WorldView-2 telah beroperasi sejak tahun 2009, dan hingga saat ini masih beroperasi (postingan bulan Juli 2020).

Kehadiran Satelit WorldView-2 mampu menghasilkan citra multispektral dengan resolusi spasial mencapai 46 cm (dalam posisi nadir), membuatnya saat itu menjadi primadona untuk kategori data citra satelit resolusi sangat tinggi, berhubung satelit-satelit lain dari perusahaan DigitalGlobe (sekarang bernama Maxar Technologies) seperti Satelit QuickBird menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial lebih rendah yaitu 61 cm (dalam posisi nadir), sedangkan Satelit WorldView-1 yang diluncurkan pada tahun 2017, hanya menghasilkan citra satelit dalam moda pankromatik saja, sehingga tampilan warnanya hitam putih.

Pesaing terkuat kala itu untuk Satelit WorldView-2 yaitu Satelit GeoEye-1 dari perusahan GeoEye yang mampu menghasilkan citra dengan resolusi spasial mencapai 41 cm dalam posisi nadir. Walaupun menghasilkan citra dengan resolusi spasial lebih tinggi, Citra Satelit GeoEye-1 masih kurang populer daripada Citra Satelit WorldView-2, berhubung kemudahan akses pembelian citra satelit dari perusahaan DigitalGlobe lebih baik dibandingkan dari perusahaan GeoEye.

Kepopuleran Citra Satelit WorldView-2 mulai sedikit demi sedikit tergeser oleh kehadiran Citra Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B dari perusahaan Airbus Defence & Space. Menyasar citra satelit pada resolusi spasial kelas 50 cm, Citra Satelit Pleiades-1A dan 1B mulai menggerus “kue” pasar penjualan citra satelit resolusi sangat tinggi yang sebelumnya dikuasai oleh perusahaan Maxar Technologies, melalui strategi harga yang lebih rendah, penambahan area dari data citra satelit yang diorder (buffer), semua data citra satelit hasil perekaman yang sudah terdapat pada database mempunyai kategori data arsip bahkan jika tanggal perekaman data citra satelit tersebut yakni hari kemarin, dan hal tersebut sangat berbeda dengan kebijakan perusahaan Maxar Technologies yang memberlakukan perbedaan harga untuk data data archive (data citra satelit yang mempunyai tanggal perekaman lebih dari 90 hari dari hari ini) dan fresh archive/update (data citra satelit yang mempunyai tanggal perekaman kurang dari 90 hari dari hari ini).

4). Pleiades-1A & Pleiades-1B

Citra Satelit Pleiades

Data Olahan Citra Satelit Pleiades-1A Warna Natural Wilayah di Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan, Skala 1:3.500
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Pleiades-1A & Pleiades-1B merupakan satelit “kembar” kepunyaan perusahaan asal Prancis, Airbus Defence & Space. Disebut satelit “kembar” karena kedua satelit tersebut mempunyai spesifikasi teknis yang sama yang menghasilkan citra dengan resolusi spasial dan spektral yang persis.

Citra Satelit Pleiades-1A & Pleiades-1B mempunyai resolusi spasial 50 cm (hasil resampling) dengan resolusi spektral 4 band, yang berada pada spektrum elektromagnetik cahaya tampak (visible) dan inframerah dekat (near infrared).

Kehadiran perusahaan Airbus Defence & Space yang merupakan anak perusahaan dari Airbus Group, yang memasuki gelanggang untuk kategori satelit penghasil citra dengan resolusi spasial sangat tinggi melalui Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B, mengusik dominasi perusahaan Maxar Technologies (dulu bernama DigitalGlobe).

5). SPOT-6 & SPOT-7

Citra Satelit SPOT 7

Data Olahan Citra Satelit SPOT7 Warna Natural di Wilayah Kab. Siak, Riau, Skala 1:9.000
(Image Copyright: Airbus Defence & Space; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Setelah keberhasilan meluncurkan Satelit Pleiades-1A & Pleiades-1B yang menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial kelas 50 cm (hasil resampling) dan mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat dunia, perusahaan Airbus Defence & Space juga meluncurkan satelit “kembar” lainnya yaitu Satelit SPOT-6 pada tanggal 9 September 2012, kemudian disusul satelit “kembarannya” SPOT-7 pada tanggal 30 Juni 2014.

Satelit SPOT-6 & SPOT-7 menghasilkan citra dengan resolusi spasial lebih rendah dibandingkan Satelit Pleiades-1A & Pleiades-1B yaitu 150 cm (1.5 meter), dengan resolusi spektral 4 band pada gelombang elektromagentik cahaya tampak (visible) dan inframerah dekat (near infrared).

6). Pleiades Neo

Satelit Pleiades Neo

Satelit Pleiades Neo
(Sumber: https://goo.gl/Fj8m51)

Tampaknya perusahaan Airbus Defence & Space sangat berambisi menjadi perusahaan nomor satu sebagai penyedia data citra satelit resolusi sangat tinggi, dengan rencana peluncuran 4 satelit terbaru yang dapat menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial mencapai 30 cm.

Satelit yang diberi nama Pleiades Neo tersebut, rencananya akan meluncur pada pertengahan tahun 2020 ini (untuk 2 satelit awal), sedangkan sisa 2 satelit lainnya akan mengangkasa pada tahun 2022 mendatang, sehingga nantinya di luar angkasa membentuk sebuah konstelasi yang mampu merekam permukaan bumi hingga 2 juta kilometer persegi per harinya.

BACA JUGA: Airbus DS Siap-Siap Meluncurkan Satelit Pesaing untuk Satelit WV-04 dan WV-03

7). WorldView Legion

Satelit WorldView Legion

Desain Satelit WorldView Legion
(Image Copyright: Maxar Technologies)

Menandingi rencana konstelasi Satelit Pleiades Neo dari perusahaan pesaingnya yaitu Airbus Defence & Space, perusahaan Maxar Technologies juga berencana meluncurkan satelit yang menghasilkan citra dengan resolusi spasial mencapai 29 cm pada posisi nadir.

Tidak tanggung-tanggung, rencananya Maxar Technologies akan meluncurkan 6 satelit sekaligus yang mereka beri nama WorldView Legion pada tahun 2021 mendatang.

Selain untuk “membendung” langkah agresif perusahaan pesaing, peluncuran Satelit WorldView Legion juga dapat dibilang sebagai pengganti Satelit WorldView-4 yang mengalami kerusakan pada tahun 2019 silam, serta untuk menyediakan data citra satelit dengan resolusi spasial terutamanya untuk kelas 30 cm, dan juga kelas 40 cm dan 50 cm di berbagai belahan dunia.

BACA JUGA: Airbus DS Bersiap-siap dengan Konstelasi Satelit Pleiades Neo, Maxar Siapkan Tandingannya dengan Konstelasi 6 Satelit Baru

8). Landsat 8

citra satelit landsat 8

Data Olahan Citra Satelit Landsat 8 Warna Natural Wilayah SukabumiJawa Barat Skala 1 : 50.000 (Image Copyright: NASA USGS; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Jika ditanyakan kepada mereka yang berkecimpung khususnya di dunia penginderaan jauh (remote sensing) ataupun umumnya di bidang pemetaan, maka boleh dibilang data Citra Satelit Landsat merupakan yang paling banyak diketahui. Mengapa?, karena Citra Satelit Landsat dapat kita peroleh secara cuma-cuma alias gratis.

Saat ini Program Satelit Landsat sudah memasuki generasi ke 8 yang bernama Satelit Landsat Data Continuity Mission (LDCM) atau biasa disebut juga sebagai Landsat 8. Satelit Landsat 8 meluncur pada tanggal 11 Februari 2013, menggunakan roket pengangkut Atlas V 401.

Satelit Landsat 8 terdiri dari dua sensor penginderaan yaitu sensor Operational Land Manager (OLI) yang terdiri dari 9 band, serta sensor Thermal Infrared Sensors (TIRS) yang terdiri dari 2 band.

Sensor OLI Satelit Landsat 8

Daftar 9 Band Sensor OLI

Sensor TIRS Satelit Landsat 8

Daftar 2 Band Sensor TIR

Resolusi spasial tertinggi yang dihasilkan oleh band pankromatik Satelit Landsat 8 yakni 15 meter, yang berada pada sensor OLI.

9). Sentinel-2A & Sentinel-2B

Citra Satelit Sentinel

Data Olahan Citra Satelit Sentinel2A Warna Natural Wilayah LebakBanten Skala 1 : 35000 (Image Copyright: ESA; Courtesy of Map Vision Indonesia)

Selain data Citra Satelit Landsat, saat ini data Citra Satelit Sentinel-2A & Sentinel-2B merupakan data citra satelit dari sistem sensor pasif lain yang banyak diketahui oleh orang-orang yang bergiat di bidang penginderaan jauh, sistem informasi geografis, dan pemetaan pada umumnya. Alasannya lagi-lagi karena data ini dapat diperoleh dengan tanpa biaya sepeser pun.

Satelit Sentinel-2A & Sentinel-2B menghasilkan citra satelit dengan resolusi spasial lebih tinggi dibandingkan Citra Satelit Landsat 8 yakni 10 meter, dan terdiri dari 13 band.

Band Sentinel-2A

Daftar 13 Band Satelit Sentinel2A

Untuk beberapa contoh data citra satelit lain yang berasal dari perekaman satelit dengan sistem sensor pasif, Anda dapat melihatnya pada linklink yang disertakan di bawah ini:

WorldView-1
QuickBird
Ikonos
GeoEye-1
RapidEye

Citra Satelit dari Satelit Sensor Aktif

Jika satelit sensor pasif menggunakan sumber energi yang berasal dari luar, maka satelit dengan sensor aktif menggunakan sumber energi yang berasal dari sensor itu sendiri.

Beberapa teknologi yang digunakan dalam satelit dengan sistem sensor aktif ini antara lain Radio Detection and Ranging (RADAR) dan juga laser.

Untuk teknologi RADAR yang saat ini banyak digunakan dalam satelit dengan sistem sensor aktif yaitu Interferometric Synthetic Aperture Radar (IFSAR) dan Synthetic Aperture Radar (SAR), sedangkan untuk teknologi laser banyak digunakan pemakaian Light Detection and Ranging (LiDAR), namun untuk pemakaian teknologi LiDAR lebih banyak disematkan pada wahana seperti pesawat terbang, drone, atau mobil otonom, dan tidak banyak yang disematkan pada wahana satelit.

Synthetic Aperture Radar (SAR)

Synthetic Aperture Radar (SAR) merupakan sebuah teknik perekaman objek-objek yang terdapat di perekaman bumi menggunakan sensor teknologi radar, dengan perekaman bentuk menyamping, yang ditempatkan pada sebuah wahana yang bergerak yang biasanya berupa satelit atau pesawat terbang.

Kelebihan dari penggunaan sensor aktif SAR ini yaitu perekaman dapat dilakukan baik di siang atau malam hari, dapat “menembus” awan sehingga tampilan citra yang dihasilkan bebas awan, mampu melewati kanopi vegetasi yang rapat, sanggup melakukan perekaman dalam kondisi cuaca apa pun, serta banyak kelebihan lainnya.

Namun dibalik berbagai kelebihannya, tampilan citra yang dihasilkan oleh teknologi RADAR seperti SAR ini akan berbeda dengan tampilan citra satelit optis yang memberikan gambaran permukaan bumi dari posisi atas seperti yang terlihat oleh mata kita dalam keadaan normal. Tampilan citra dari teknologi SAR akan cukup sulit diinterpretasi secara langsung oleh kita, apalagi yang tidak terbiasa melihat data tersebut, karena objek hasil perekaman yang dihasilkan berdasarkan tingkat kemiringan pancaran energi gelombang mikro, sehingga kalau dilihat tampilan objek-objek pada citranya sebagian besar tampak miring seperti tertiup angin dengan tampilan warna hitam putih, serta terdapat noise berupa speckle (bintik-bintik berwarna keabuan).

Synthetic Aperture Radar

Teknik Perekaman Menyamping dari Sebuah Wahana Menggunakan Sensor RADAR
(Image Credit: http://www.geo.hunter.cuny.edu/terrain/radarii.html)

Dan berikut beberapa contoh citra yang dihasilkan dari teknik Synthetic Aperture Radar (SAR):

1). ALOS PALSAR

Sesuai namanya yaitu The Phased Array type Lband Synthetic Aperture Radar (PALSAR) sensor RADAR yang tersemat pada Satelit  Advanced Land Observing Satellite (ALOS) ini menggunakan gelombang mikro pada frekuensi L-band untuk mencapai area perekaman.

ALOS PALSAR mempunyai dua mode Fine Beam yaitu polarisasi tunggal (Fine Beam Single – FBS) dan polarisasi ganda (Fine Beam Double – FBD), serta terdapat juga mode Polarimetric atau dikenal juga sebagai quadpolarization. Selain mode Fine Beam dan Polarimetric, terdapat juga mode ScanSAR yang dapat merekam area liputan lebih luas (250 – 350 km) namun dengan resolusi spasial yang lebih rendah (100 meter).

ALOS PALSAR

Mode Data ALOS PALSAR
(Image Credit: JAXA)

Satelit ALOS yang menyematkan sensor PALSAR sebagai sensor aktif RADAR dan juga Advanced Visible and Near-Infrared Radiometer – 2 (AVNIR – 2) dan Panchromatic Remote-sensing Instrument for Stereo Mapping (PRISM) sebagai sensor optis, meluncur ke luar angkasa pada tanggal 24 Januari 2006 di Taneghasima Space Center, Jepang, menggunakan roket pengangkut H-IIA no. 8.

Satelit ALOS berhenti beroperasi pada tahun 2011 setelah mengalami kerusakan pada bagian struktur panel surya yang menyebabkan satelit kehilangan tenaga untuk mengorbit. Kerusakan yang terjadi diduga karena meteoroid menghantam Satelit ALOS.

2). ALOS PALSAR-2

Menggantikan kerusakan yang terjadi pada Satelit ALOS, pihak Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) selaku badan antariksa negara Jepang, dengan meluncurkan Satelit ALOS-2 pada tanggal 24 Mei 2014 di Taneghasima Space Center, Jepang, menggunakan roket pengangkut H-IIA.

Berbeda dengan Satelit ALOS yang menyematkan sekaligus sensor optis (AVNIR-2 dan PRISM) dengan sensor RADAR (PALSAR) pada wahana, pada Satelit ALOS-2 tidak terdapat sensor optis elektro dan hanya menyisakan sensor aktif PALSAR, hal tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya pembuatan dan menyederhanakan konstruksi satelit tersebut.

Sensor PALSAR pada Satelit ALOS-2 mengalami peningkatan kualitas yang signifikan dibandingkan pendahulunya, dimana sensor PALSAR-2 mampu menghasilkan citra radar dengan resolusi spasial antara 3 hingga 1 meter, dengan lebar area liputan yang terekam yakni 25 kilometer.

Pada PALSAR-2 terdapat tiga mode data citra yaitu:

  • Spotlight

Mode data citra RADAR dengan resolusi spasial yang paling tinggi dengan resolusi spasial 3 hingga 1 meter dengan lebar area liputan yang terekam yakni 25 kilometer;

  • Strip Map

Mode data citra RADAR dengan resolusi spasial 3, 6, dan 10 meter dengan lebar area liputan area yang terekam yakni 50 kilometer atau 70 kilometer;

Citra ALOS PALSAR-2

Citra RADAR dari ALOS PALSAR2 Mode Strip Map dengan Resolusi Spasial 3 Meter Polarisasi Horizontal Horizontal (HH) Wilayah Gunung Merapi, Jawa Tengah, Tanggal Perekaman 10 November 2014
(Image Copygright: JAXA)

  • ScanSAR

Mode data citra RADAR dengan resolusi spasial paling rendah yakni 100 meter hingga 60 meter, namun lebar area liputan yang terekam yaitu 350 kilometer hingga 490 kilometer.

3). TerraSAR-X dan TanDEM-X

TerraSAR-X dan TanDEM-X merupakan satelit “kembar” dengan sensor aktif RADAR yang dimiliki oleh perusahaan asal Prancis, Airbus Defence & Space.

Satelit TerraSAR-X diluncurkan pada tanggal 15 Juni 2007 yang bertempat di Russian Cosmodrome, Baikonur, Kazakhstan, dengan menggunakan roket peluncur Dnepr-1, dan 3 tahun kemudian atau tepatnya tanggal 21 Juni 2010, Satelit TanDEM-X menyusul “saudara tuanya” untuk mengorbit di luar angkasa.

Terdapat 6 mode data citra yang dihasilkan oleh Satelit TerraSAR-X dan TanDEM-X yakni:

  • Staring SpotLight

Mode data citra RADAR dengan resolusi spasial mencapai 25 cm dengan lebar area liputan 4 x 3.7 km atau 2.5 x 7.5 km;

  • High Resolution SpotLight

Mode data citra radar dengan resolusi spasial mencapai 1 meter dengan lebar area liputan 5 hingga 10 km;

  • SpotLight

Mode data citra RADAR dengan resolusi spasial mencapai 2 meter dengan lebar area liputan 10 km;

  • StripMap

Mode data citra RADAR dengan resolusi spasial mencapai 2 meter dengan lebar area liputan 10 km;

  • ScanSAR

Mode data citra RADAR dengan resolusi spasial mencapai 18.5 meter dengan lebar area liputan 100 km;

  • Wide ScanSAR

Mode data citra radar dengan resolusi spasial mencapai 40 meter dengan lebar area liputan mencapai 270 x 200 km (panjang area liputan dapat mencapai 1500 km);

TerraSAR-X

Citra RADAR Mode Staring SpotLight Wilayah Lillestrom Norwegia, Resolusi Spasial 38 cm, Polarisasi Tunggal Horizontal Horizontal (HH), Tanggal Perekaman 10 April 2013
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)

Selain untuk menghasilkan citra RADAR yang bebas awan dan dapat beroperasi pada siang serta malam hari pada berbagai kondisi cuaca, tujuan peluncuran Satelit TerraSAR-X dan TanDEM-X juga untuk mendapatkan produk olahan lain berupa data Digital Elevation Model (DEM) WorldDEM yang mempunyai resolusi spasial 12 meter dengan akurasi vertikal 2 meter.

WorldDEM

Perbedaan Kenampakan antara Data WorldDEM DSM dengan Data WorldDEM DTM

Interferometric Synthetic Aperture Radar (IFSAR)

Inteferometric Synthetic Aperture Radar (IFSAR) merupakan teknik perekaman permukaan bumi menggunakan sensor RADAR yang disematkan pada sebuah wahana yang bergerak (dapat berupa satelit atau pesawat) untuk mendapatkan informasi tiga dimensi dari sebuah wilayah.

Prinsip kerja IFSAR yaitu penggunaan sensor aktif RADAR pada sebuah wahana yang memancarkan gelombang RADAR secara konstan ke permukaan bumi. Objek yang terkena pancaran gelombang tersebut akan memantulkan atau memancarkan kembali hingga nantinya direkam oleh sensor.

Hasil perekaman nantinya berupa citra RADAR yang mengandung informasi penting yaitu daya sinar pancar berupa data fase dan amplitudo yang dipengaruhi oleh banyaknya gelombang yang dipantulkan dan dipancarkan kembali oleh objek yang terkena pancaran gelombang RADAR.

Informasi fase gelombang digunakan untuk menentukan apakah terjadi pergeseran (deformasi) dari permukaan bumi yang memantulkan gelombang tersebut, sedangkan informasi lain seperti intensitas sinyal digunakan untuk mengetahui karakteristik dari objek yang memantulkan gelombang RADAR.

Terdapat dua metode dalam IFSAR yaitu singlepass interferometry dan multiplepass interferometry.

Untuk metode singlepass interferometry menggunakan dua sensor aktif RADAR dalam sebuah wahana yang ditempatkan berjarak beberapa meter satu sama lain. Contoh data IFSAR dengan metode singlepass inteferometery menggunakan wahana satelit yang paling banyak dikenal ialah data Digital Elevation Model Shuttle Radar Topographic Mission (DEM SRTM), yang dapat diperoleh secara gratis.

Untuk metode multiple pass interferometry hanya satu sensor yang disematkan pada wahana, namun wahana melintas pada area liputan lebih dari satu kali dalam waktu yang berbeda (berbeda dalam hitungan hari).

Sensor pada IFSAR menggunakan gelombang X-band, L-band, C-band, hingga P-band. Gelombang X-band mempunyai keunggulan berupa kemampuannya menembus awan, kabut, hujan, serta berbagai kondisi lainnya, namun masih belum mampu menembus kanopi vegetasi yang rapat, sehingga data elevasi yang dapat diperoleh yakni data berbagai objek yang berada di permukaan bumi atau dikenal dengan nama Digital Surface Model (DSM). Sedangkan untuk gelombang P-band mempunyai keunggulan mampu “menembus” juga sebuah kanopi vegetasi yang rapat, hingga dapat merekam kondisi permukaan bumi yang sebenarnya (tanpa terdapat objek di atasnya seperti pepohonan, bangunan, dan lain sebagainya).

Saat ini data IFSAR paling dikenal yang dijual secara komersial yakni data IFSAR dari perusahaan InterMap, dengan pilihan data citra RADAR bisa diperoleh dari hasil perekaman spaceborne (wahana satelit) atau menggunakan airborne (wahana pesawat terbang).

Produk data IFSAR InterMap mempunyai resolusi spasial 1, 6, dan 10 meter untuk perekaman menggunakan wahana satelit dan untuk perekaman menggunakan wahana pesawat terbang mempunyai resolusi spasial 1 dan 5 meter. Akurasi vertikal (LE90) dapat mencapai 1 meter dan akurasi horizontal (CE90) dapat mencapai 3.5 meter (yang tergantung kondisi area perekaman).

Contoh Tampilan Data IFSAR dari InterMap yaitu NEXTMap 5 dengan Resolusi Spasial 5 Meter. Dari Kiri ke Kanan Merupakan data Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan Orthorectified Radar Imagery (ORI) dari NEXTMap 5 (Image Copyright: InterMap)

Manfaat Citra Satelit

Saat ini beragam satelit sumber daya alam mengorbit di luar angkasa yang menghasilkan citra satelit dengan beragam resolusi spasial dan resolusi spektral yang sangat bermanfaat untuk menunjang berbagai kepentingan kita, seperti:

  • Bidang Pertambangan dan Energi:

    • Digunakan sebagai data dalam Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) atau perizinan lainnya;
    • Salah satu data yang digunakan dalam laporan area tambang yang dimiliki sebuah perusahaan kepada kementrian terkait;
    • Perencanaan site plan area pertambangan;
    • Monitoring luasan area tambang yang dimiliki perusahaan dari waktu ke waktu;
    • Perencanaan dan monitoring rehabilitasi lahan hasil kegiatan pertambangan;
    • Monitoring kegiatan pertambangan ilegal dan PETI;
    • Inventarisasi potensi area pertambangan;
    • Monitoring perubahan tutupan lahan di area tambang dan sekitarnya;
    • Inventarisasi potensi dan perencanaan lokasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
  • Bidang Pertanian dan Perkebunan:

    • Melakukan observasi pada lahan yang luas, petak tanaman hingga tiap individu tanaman;
    • Melakukan identifikasi jenis tanaman dan kondisi tanah, potensi panen, efektifitas pengairan, kesuburan dan penyakit tanaman, kandungan air;
    • Secara berkala (time series) dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan tanaman, laju perubahan jenis tanaman, perubahan atau alih fungsi lahan pertanian;
    • Menghitung jumlah pohon dan volume hasil panen komoditi perkebunan;
    • Perencanaan  pola tanam perkebunan;
    • Perencanaan peremajaan tanaman perkebunan.
  • Bidang Kehutanan:

    • Monitoring batas-batas fungsi kawasan hutan;
    • Identifikasi wilayah habitat satwa;
    • Identifikasi perubahan kawasan hutan akibat illegal loging;
    • Inventarisasi potensi sumber daya hutan;
    • Pemetaan kawasan unit-unit pengelolaan hutan;
    • Perencanaan lokasi reboisasi.
  • Bagi Unit Pengelolaan Hutan HTI:

    • Perencanaan pembagian areal usaha ke dalam bentuk blok, petak dan anak petak;
    • Perencanaan lokasi camp, lokasi menara pengawas, lokasi persemaian, dan lain-lain;
    • Monitoring pertumbuhan tanaman dan areal siap panen.
  • Bagi Unit Pengelolaan Hutan HPH:

    • Inventarisasi luas lahan HPH;
    • Menghitung potensi volume kayu;
    • Perencanaan dan pembuatan site plan;
    • Perencanaan jalur transportasi loging;
    • Mengidentifikasi batas kawasan;
    • Evaluasi laju produksi.
  • Secara berkala (time series) digunakan untuk:

    • Memantau laju kerusakan hutan (deforestation);
    • Memantau perubahan lahan pada kawasan hutan;
    • Memantau keberhasilan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN).
  • Bidang Arsitek dan Konstruksi:

    • Desain dan perencanaan tapak konstruksi;
    • Desain dan perencanaan landscape konstruksi;
    • Perbaikan proses desain;
    • Monitoring proses konstruksi.
  • Bidang Perencanaan dan Pembangunan Wilayah:

    • Pembuatan peta detail penggunaan lahan;
    • Perencanaan tata ruang, DED, dan landscape pembangunan;
    • Pemetaan kawasan rawan bencana alam;
    • Pemantauan dan penanggulangan bencana alam.
  • Bidang Entertainment dan Pelatihan:

    • Simulasi terbang pada pelatihan pilot;
    • Visualisasi 3 dimensi relief permukaan bumi pada industri film dan game.
  • Bidang Pertahanan dan Intelijen:

    • Mendukung operasi intelijen;
    • Operasi tempur;
    • Operasi teritorial;
    • Operasi militer selain perang.

BACA JUGA: Manfaat Penginderaan Jauh dalam Bidang Pertanian

Bagaimana Memperoleh Citra Satelit?

Mungkin Anda saat ini sedang membutuhkan data citra satelit baik untuk yang sensor optis maupun RADAR ataupun data DEM untuk kepentingan Anda, namun Anda bingung bagaimana memperoleh data tersebut.

Anda tidak perlu bingung, karena Anda dapat memesan data citra satelit baik dari sensor optis ataupun RADAR dan juga data DEM di Map Vision Indonesia.

Map Vision Indonesia telah berpengalaman mengerjakan ratusan projek terkait pembelian dan pengolahan data citra satelit terutamanya data citra satelit optis dengan berbagai resolusi dari beragam vendor sejak tahun 2013.

Untuk mengetahui ketersediaan data citra satelit ataupun DEM, Anda cukup mengirimkan data area order yang alangkah baiknya sudah berupa data vektor dalam format Shapefile (.shp), atau Google Earth files (.kml atau .kmz), atau CAD files (.dwg atau .dxf), atau data titiktitik koordinat, dalam sistem proyeksi Geodetik atau UTM dengan datum WGS 84.

Sekiranya Anda tidak familiar dengan format-format data di atas, Anda dapat melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan kami perihal pembuatan area order ataupun terdapat hal lain yang ingin ditanyakan, dengan menghubungi kami pada nomor WA/SMS/Telepon berikut ini:

0857 2016 4965 (INDOSAT) atau 0878 2292 5861 (XL)

Anda dapat juga menghubungi kami via email, pada alamat email berikut ini:

mapvisionindonesia@gmail.com atau cs@mapvisionindo.com

BACA JUGA: Jual Citra Satelit

Harga Citra Satelit

Saat ini sebagian besar perhitungan pembelian data citra satelit baik dari sensor optis maupun radar yang dijual secara komersial kepada khalayak umum dihitung per kilometer persegi (km2), dengan terdapat beberapa aturan pembelian seperti minimal luasan area order serta jarak minimal antar verteks dan lebar minimal ke segala arah.

Sebagai contoh, untuk data citra satelit yang termasuk kategori resolusi spasial sangat tinggi dari berbagai perusahaan manapun saat ini menerapkan luasan minimal ordernya yaitu seluas 25 km2, namun yang membedakan jarak minimal antar verteks dan lebar minimal ke segala arahnya.

Misalnya untuk data arsip citra satelit resolusi sangat tinggi dari perusahaan Maxar Technologies seperti WorldView-4, WorldView-3, WorldView-2, dan citra satelit lainnya, mempunyai minimal luasan minimal order yaitu seluas 25 km2, dengan jarak antar verteks dan lebar ke segala arah minimal 2 km, sedangkan data Citra Satelit KOMPSAT-3A dan KOMPSAT-3 dari Korea Aerospace Research Institute (KARI) juga mempunyai aturan luasan minimal order yang sama yakni 25 km2, namun jarak antar verteks dan lebar ke segala arah minimal berjarak 5 km.

Untuk beberapa data citra satelit yang dapat diperoleh secara gratis seperti Citra Satelit Landsat berbagai generasi dan juga Citra Satelit Sentinel-2A dan Citra Satelit Sentinel-2B, di Map Vision Indonesia hanya dikenakan biaya pengolahan yang dihitung per scene.

Sebagai contoh berapa cakupan area dalam satu scene citra satelit,  untuk satu scene data Citra Satelit Landsat 8 mencakup area seluas 190 x 195 km, sedangkan satu scene data Citra Satelit Sentinel-2A mencakup area seluas 110 x 110 km.

Pembelian data citra satelit dapat disertai dengan pengolahan standar, mapping (digitasi dan interpretasi dari hasil pengolahan standar), serta pengolahan lanjutan lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut terkait perhitungan pembelian citra satelit yang dapat disertai juga dengan pengolahan dan mapping, Anda dapat menghubungi kami pada nomor WA/SMS/Telepon berikut ini:

0857 2016 4965 (INDOSAT) atau 0878 2292 5861 (XL)

Anda dapat juga menghubungi kami via email, pada alamat email berikut ini:

mapvisionindonesia@gmail.com atau cs@mapvisionindo.com

BACA JUGA: Harga Citra Satelit

***

Sekian postingan mengenai pengertian citra satelit beserta informasi lain terkait citra satelit. Semoga menambah pengetahuan Anda terkait salah satu data penginderaan jauh (remote sensing) tersebut.

POSTINGAN MENARIK LAINNYA:

1). [Tutorial] Cara Download Peta RBI Gratis

2). [Tutorial] Download Data DEM SRTM Langsung di QGIS

3). [Tutorial] Mengetahui Suhu Permukaan Laut dari Citra Satelit MODIS Menggunakan QGIS

4). [Tutorial] Download Data OSM di QGIS 3.4

5). [Tutorial] Melakukan Georeferensi di QGIS

 

2 comments on “Pengertian Citra Satelit

  1. Citra satelit untuk melihat kerapatan vegetasi apa ya???

    • Citra satelit apa saja bisa mas, asalkan mempunyai band inframerah dekat dan juga band dalam spektrum elektromagnetik cahaya tampak (visible), sehingga nantinya dapat dilakukan proses analisis spasial seperti NDVI, dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: