Leave a comment

Penginderaan Jauh

Penginderaan Jauh

Penginderaan Jauh
(Image by: Free Photos from Pixabay)

Penginderaan JauhPostingan berikut merupakan bagian pertama dari postingan berseri terkait penginderaan jauh. Untuk postingan perdana ini, kami akan membahas mengenai pengertian penginderaan jauh dan komponen penginderaan jauh.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

DAPATKAN DATA CITRA SATELIT RESOLUSI SANGAT TINGGI SPOT 7 BESERTA PENGOLAHAN DAN MAPPING DENGAN HARGA YANG KOMPETITIF DI MAP VISION

UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI KAMI PADA NOMOR TELEPON (WA/SMS/TELEPON): 0857 2016 4965 | E-MAIL: mapvisionindonesia@gmail.com

Pengertian Penginderaan Jauh

Remote TV

Remote Control
(Image by: Adriano Gadini from Pixabay)

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata remote?, kami meyakini bahwa sebagian besar dari Anda akan langsung terlintas mengenai remote berbagai peralatan elektronik seperti TV, AC, dan lain sebagainya. Penggunaan remote berbagai alat elektronik tersebut memudahkan kita mengontrol penggunaan alat elektronik tersebut dalam suatu jarak tertentu. Kita tidak perlu cape-cape bergerak menuju TV untuk menekan tombol volume pada TV hanya untuk mengecilkan atau membesarkan suara atau menaiki tangga portable hanya untuk menghidupkan atau mematikan AC, karena ada remote di tangan kita.

BACA JUGA:

1). Pengolahan Citra Penginderaan Jauh

2). Foto Udara dan Citra Satelit

3). Apa Itu Citra Satelit?

4). Pengertian Citra Satelit

5). Citra Satelit Resolusi Tinggi

Konsep penginderaan jauh sederhananya kurang lebih sama dengan remote berbagai alat elektronik yang ada di rumah kita yakni mendapatkan sesuatu hal tanpa kontak fisik langsung dengan objek tersebut yang dapat dilakukan pada jarak tertentu melalui sebuah alat.

Pada penginderaan jauh yang menjadi objek secara khusus adalah objek-objek yang berada di permukaan bumi, namun dapat juga objek yang terdapat di angkasa, dengan menggunakan beragam alat yang digunakan dalam perekam bumi yang termuat pada sebuah wahana.

Dari konsep di atas, secara mudahnya Penginderaan Jauh merupakan sebuah proses untuk mendapatkan informasi dari objek-objek yang berada di permukaan bumi pada jarak tertentu menggunakan sebuah wahana.

Pengertian Penginderaan Jauh Menurut Para Ahli

Kurang afdol rasanya jika tidak menyertakan pengertian Penginderaan Jauh menurut para ahli di bidang ini.

Salah satu pengertian mengenai Penginderaan Jauh yang paling legendaris yaitu yang dibuat oleh Lillesand dan Kiefer pada bukunya yang berjudul: “Remote Sensing and Image Interpretation”, yang telah banyak dikutip berbagai kalangan yang berkecimpung di dunia Penginderaan Jauh.

Definisi Penginderaan Jauh menurut Lillesand dan Kiefer (1994) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena, melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomea yang dikaji.

Definisi lain datang dari Campbell dan Wynne (2011), dimana definisi Penginderaan Jauh menurut mereka ialah ilmu yang mempelajari objek yang ada di permukaan bumi dengan pendekatan tertentu, tanpa harus kontak langsung dengan objek tersebut.

Pengertian Penginderaan Jauh datang juga dari Lindgren (1985) yang mendefinisikan Penginderaan Jauh sebagai beragam teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi.

Dari beberapa pengertian Penginderaan Jauh menurut beberapa ahli di bidang ini, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Penginderaan Jauh merupakan sebuah ilmu (dan juga seni) untuk memperoleh sebuah informasi dari suatu objek (dalam hal ini khususnya permukaan bumi) tanpa melakukan kontak langsung.

Pembahasan lebih detail mengenai Pengertian Penginderaan Jauh Menurut Para Ahli, bisa Anda baca pada link berikut:

Pengertian Penginderaan Jauh

Komponen Penginderaan Jauh

Penginderaan Jauh merupakan sebuah sistem yang melibatkan berbagai komponen yang saling terkait dan bekerja sama secara terkoordinasi untuk menghasilkan informasi pada sebuah area perekaman.

Komponen Penginderaan Jauh

Komponen Penginderaan Jauh
(Sumber Gambar: bit.ly/2H62qwi)

Komponen-komponen Penginderaan Jauh tersebut adalah sebagai berikut:

1). Wahana dan Sensor

Untuk merekam sebuah objek di permukaan bumi (ataupun angkasa), maka diperlukan sebuah wahana yang memuat berbagai alat untuk merekam kenampakan berbagai objek di permukaan bumi.

Saat ini, wahana paling populer digunakan dalam menghasilkan data Penginderaan Jauh yaitu penggunaan wahana berupa satelit dan pesawat terbang rendah seperti drone/UAV.

Salah satu alat penting yang dimuat dalam wahana adalah sensor, yang mempunyai fungsi sebagai alat utama yang merekam objek di permukaan bumi.

Tipe sensor secara umum dibagi menjadi tiga, yakni:

  • Sensor Fotografik: sensor berupa kamera yang biasanya dipasang pada wahana selain satelit seperti contohnya pesawat terbang, balon udara, helikopter, dll. Sensor biasanya hanya bekerja pada spektrum elektromagnetik cahaya tampak (visible) dan menghasilkan tampilan foto warna sebenarnya (true color), dimana tampilan warna objek sesuai dengan apa yang dilihat mata manusia dalam keadaan normal.’

  • Sensor Elektronik: sensor yang bekerja secara elektrik dalam bentuk sinyal. Sinyal elektrik ini direkam pada pita magnetik yang kemudian dapat diproses menjadi data visual atau data digital dengan menggunakan komputer.
  • Sensor ElektroOptik (OptoElektronik): tipe sensor ini mengkombinasikan prinsip-prinsip fisika optik dengan mekanisme piranti elektronik. Sensor elektro-optik umumnya digunakan pada sistem penginderaan jauh dengan sistem pasif (menggunakan sumber tenaga yang berasal dari luar wahana, seperti bersumber dari tenaga matahari).

Sensor elektrooptik sendiri dibagi menjadi 3 macam (berdasarkan kategorisasi Vincent (1997)), yakni skaner multispektral yang beroperasi seperti menyapu secara melintang (whiskbroom), skaner deret linier yang beroperasi seperti sapu dorong (pushbroom), serta skaner deret dua dimensional (area array atau electronic framing camera) menggunakan deret detektor dua dimensi seperti frame pada kamera.

Beberapa sensor yang cukup terkenal yang berada pada wahana satelit antara lain sensor Operational Land Manager (OLI) dan Thermal Infrared Sensors (TIRS) yang tersemat pada Satelit Landsat 8, sensor Ehanced Thematic Mapper Plus (ETM+) yang berada pada wahana Satelit Landsat 7, sensor WorldView110 (WV110) yang terpasang pada Satelit WorldView2, serta berbagai sensor lainnya.

2). Sumber Tenaga

Wahana yang digunakan dalam melakukan perekaman objek di permukaan bumi, tidak melakukan kontak langsung dengan objek tersebut, dan berada pada jarak tertentu. Oleh karena itu diperlukan sebuah sumber tenaga yang menjadi pembawa informasi dari objek yang direkam dengan wahana yang merekamnya.

Sumber tenaga yang digunakan oleh wahana untuk memperoleh data penginderaan jauh terdiri dari sumber tenaga alami seperti yang berasal dari tenaga matahari, dan sumber tenaga buatan yang berasal dari wahana itu sendiri seperti penggunaan teknologi Radio Detection and Ranging (RADAR) dan laser.

Pada saat sekarang ini, umumnya wahana satelit memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang berasal dari sinar matahari sebagai sumber tenaga alami. Penjalaran gelombang elektromagnetik yang menembus atmosfer dan mengenai objek-objek di permukaan bumi akan dipantulkan oleh objek-objek tersebut dan ditangkap oleh sensor yang berada pada wahana.

Penggunaan sumber tenaga alami dari matahari mempunyai kelemahan yakni ikut sertanya kenampakan awan pada data citra satelit hasil perekaman (jika ketika melakukan akuisisi data pada area perekaman terdapat awan (terutamanya awan tebal)), yang menyebabkan tidak tampaknya berbagai objek-objek di permukaan bumi karena tertutup awan, sehingga informasi di area tersebut tidak dapat diketahui. Selain itu, satelit dengan sumber tenaga alami dari matahari, tidak dapat melakukan perekaman pada malam hari, berhubung sudah tersedia sumber tenaganya.

Belajar Penginderaan Jauh

Berbeda dengan sumber tenaga alami yang menggunakan tenaga dari luar wahana, maka sumber tenaga buatan memakai tenaga yang berasal dari wahana itu sendiri. Beberapa teknologi yang yang digunakan sebagai sumber tenaga buatan pada wahana satelit antara lain Radio Detection and Ranging (RADAR) dan laser.

Saat ini hasil pengembangan teknologi RADAR di bidang pemetaan yang paling banyak digunakan yaitu Synthetic Aperture Radar (SAR) dan Interferometric Synthetic Aperture Radar (IFSAR), sedangkan untuk penggunaan teknologi laser yaitu pemakaian teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR).

Keuntungan penggunaan satelit dengan sensor aktif yaitu kemampuannya “menembus” awan, perekaman dapat dilangsungkan pada malam hari, dan beberapa keunggulan lainnya.

Penggunaan sumber tenaga aktif sendiri saat ini utamanya diperuntukkan untuk memperoleh tampilan topografi sebuah wilayah.

3). Atmosfer

Atmosfer seperti yang telah kita ketahui merupakan sebuah lapisan yang menyelimuti bumi. Posisinya yang berada di antara wahana (terutamanya satelit yang berjarak ratusan kilometer dari permukaan bumi), dan sumber tenaga alami wahana yakni matahari, dengan objek permukaan bumi, membuat atmosfer mempunyai peranan dalam proses perekaman data penginderaan jauh oleh sebuah wahana.

Keberadaan berbagai jenis gas di atmosfer seperti nitrogen, karbondioksida, oksigen, helium, metana, ozon, neon, argon, xenon, dan kripton, membuat tidak semua gelombang elektromagnetik yang berasal dari sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi, karena sebagian akan dipantulkan (refleksi) dan sebagian lagi akan diserap (absorpsi). Bagian pada atmosfer yang dapat ditembus oleh gelombang elektromagnetik diistilahkan dengan nama jendela atmosfer. Gelombang elektromagnetik yang mampu mencapai permukaan bumi itulah yang dimanfaatkan dalam proses perekaman data penginderaan jauh.

4). Interaksi antara Tenaga dan Objek

Dari penjelasan mengenai penginderaan jauh dan komponen penginderaan jauh sebelumnya, dapat kita  simpulkan bahwa proses mendapatkan data penginderaan jauh memanfaatkan interaksi antara tenaga yang dikirimkan dengan respon objek di permukaan bumi yang terkena tenaga tersebut.

Objek yang terkena tenaga misalnya yang berasal dari gelombang elektromagnetik yang bersumber dari sinar matahari, maka berdasarkan asas kekekalan tenaga akan melakukan tiga interaksi yakni memantulkan (refleksi), menyerap (absorpsi), dan meneruskan (transmisi). Dari ketiga interaksi tersebut, pantulan dari objek merupakan aspek yang paling penting dalam penginderaan jauh, karena pantulan tersebut yang direkam sensor pada wahana.

Besar pantulan pada permukaan benda (reflectance at a surface interface) tergantung pada:

a). Sudut Datang Energi;

Pantulan pada permukaan benda kerap digolongkan menjadi dua jenis yakni pantulan sempurna dan pantulan baur. Pada pantulan sempurna, semakin kecil sudut datang energi maka semakin kecil pula pemantulan yang terjadi.

b). Kekasaran Permukaan;

Semakin halus permukaan maka pemantulan semakin sempurna dan semakin kasar permukaan maka gelombang elektromagnetik akan dihamburkan ke berbagai arah.

c). Materi.

Materi akan mempengaruhi sudut refraksi dan persentase energi yang dipantulkan, diteruskan, dan diserap.

Selain pantulan pada permukaan, terdapat juga istilah pantulan dalam permukaan (reflectance within a surface). Istilah ini merujuk pada tidak penuhnya energi gelombang elektromagnetik yang dipantulkan oleh sebuah objek, karena sebagian energi lainnya diserap dan diteruskan. Energi yang diserap atau diteruskan oleh objek tersebut, terdapat energi yang dipantulkan oleh elemen yang terdapat di dalam objek tersebut.

5). Data Penginderaan Jauh

Hasil perekaman objek di permukaan bumi dan dekat permukaan bumi oleh sebuah wahana akan menghasilkan data penginderaan jauh dalam bentuk digital.

Data digital diperoleh salah satunya melalui penggunaan sistem pemindaian atau skaner pada sensor, dengan mengubah kenampakan dari non digital menjadi digital. Sekarang ini yang paling banyak digunakan wahana satelit yaitu pemakaian sistem skaner yang beroperasi dengan cara menyapu secara melintang (whiskbroom), dan skaner yang beroperasi seperti sapu dorong (pushbroom).

Sistem Pemindaian (Scanner) Secara Whiskbroom dan Pushbroom

Sistem Pemindaian (Scanner) secara Whiskbroom dan Pushbroom

Sensor Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM+) yang tersemat pada Satelit Landsat 7 merupakan salah satu contoh sensor dengan sistem pemindaian whiskbroom, yang terdiri dari cermin utama (scan primary mirror) untuk pemindaian area perekaman secara maju dan mundur serta cermin Scan Line Corrector (SLC) yang bertugas menghilangkan gerakan “zig zag” yang dihasilkan oleh gerakan menyamping cermin utama dengan gerakan maju satelit.

Sedangkan sensor Panchromatic Remotesensing Instrument for Stereo Mapping (PRISM) yang berada pada Satelit ALOS merupakan salah satu contoh sensor dengan sistem pemindaian secara pushbroom.

Data digital tersebut disimpan dalam sebuah media magnetik, optik, dan media lainnya seperti hard disk, flash disk, optical disk, dan lain sebagainya. Untuk wahana satelit, sebagian besar menggunakan media bernama Solid State Drive yang mempunyai kapasitas penyimpanan data hasil perekaman dalam ukuran besar dengan kecepatan perekaman yang tinggi. Data hasil perekaman, akan dikirimkan menuju stasiun yang ada di Bumi (Ground Station).

Belajar Penginderaan Jauh

Penginderaan Jauh secara sederhananya merupakan proses pengumpulan informasi pada suatu area pada jarak tertentu menggunakan sebuah wahana.

Wahana yang populer saat ini digunakan untuk memperoleh data Penginderaan Jauh yakni drone/UAV serta satelit.

Aplikasi Penginderaan Jauh saat ini sudah merambah ke hampir semua sektor kehidupan, dan semakin populer semenjak diperbolehkannya penggunaan satelit observasi bumi yang dapat menghasilkan citra dengan resolusi spasial sangat tinggi untuk kepentingan umum secara komersial, serta dapat diperolehnya beberapa data citra satelit resolusi menengah secara gratis seperti contohnya Citra Satelit Landsat dan Sentinel.

Oleh karena begitu bermanfaatnya ilmu Penginderaan Jauh, maka pemahaman tentang ilmu Penginderaan Jauh beserta penguasaan software untuk mengolah data Penginderaan Jauh menjadi hal yang penting untuk dikuasai, terutama bagi mereka yang berkecimpung pada sektor-sektor seperti pertambangan, perkebunan, minyak dan gas, tata ruang, serta berbagai sektor lainnya yang terbiasa menggunakan data Penginderaan Jauh.

Untuk membantu Anda memahami konsep Penginderaan Jauh dan terutamanya penguasaan software pengolahan data Penginderaan Jauh khususnya data citra satelit baik yang menggunakan sensor pasif (sumber tenaga wahana dari matahari) dan sensor aktif (sumber tenaga wahana berasal dari wahana itu sendiri), maka kami menghadirkan ebook Pengolahan Citra Penginderaan Jauh.

Pada ebook ini, Anda akan menggunakan data Citra Satelit Landsat 8 sebagai contoh pengolahan data Penginderaan Jauh dengan menggunakan sensor pasif, dan data LiDAR sebagai contoh pengolahan data Penginderaan Jauh dengan menggunakan sensor aktif.

Ebook ini dibuat dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, serta dirancang secara terstruktur, sehingga akan mudah dimengerti bahkan bagi Anda yang baru mau belajar teori dan praktik terkait Penginderaan Jauh.

Informasi lengkap mengenai ebook ini, dapat Anda lihat pada link berikut:

Ebook Pengolahan Citra Penginderaan Jauh

******

Sekian postingan berseri perdana mengenai penginderaan jauh. Simak postingan lanjutannya pada waktu-waktu mendatang.

Referensi:

Danoedoro, Projo. 2012. Pengantar Penginderaan Jauh Digital. Yogyakarta: ANDI.

Hadi, A. P. 2018. Penginderaan Jauh untuk Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Yogyakarata: Deepublish.

Putra, E. H. 2011. Penginderaan Jauh dengan ER Mapper. Yogyakarata: Graha Ilmu.

Widyatmanti, W., Murti, S. H., & Widayani, P. 2020. Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemodelan dan Pemetaan Data Biofisik Lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

POSTINGAN MENARIK LAINNYA:

1). [Tutorial] Cara Download Peta RBI Gratis

2). [Tutorial] Menghitung Luas dan Panjang Sebuah Data Vektor di QGIS versi 3

3). [Tutorial] Mengetahui Suhu Permukaan Laut dari Citra Satelit MODIS Menggunakan QGIS

4). [Tutorial] Cara Memperoleh Anotasi di Google Maps

5). [Tutorial] Membuat Area Buffer dalam Beberapa Radius Menggunakan QGIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: