Leave a comment

Satelit Pleiades Neo Resmi Mengangkasa

Peluncuran Satelit Pleaides Neo
Peluncuran Satelit Pleaides Neo yang Pertama di Guiana Space Center
(Image Copyright: CNESESAARIANESPACE)

DAPATKAN DATA CITRA SATELIT RESOLUSI SANGAT TINGGI PLEIADES NEO BESERTA PENGOLAHAN DAN MAPPING DENGAN HARGA YANG KOMPETITIF DI MAP VISION

UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI KAMI PADA NOMOR TELEPON: 0857 2016 4965 | E-MAIL: mapvisionindonesia@gmail.com

Setelah mengalami penundaan selama hampir satu tahun, satu dari 4 Satelit Pleiades Neo berhasil meluncur pada tanggal 29 April 2021 pukul 01:50 UTC atau tanggal 28 April 2021 pukul 10:50 malam waktu setempat.

Bertempat di Guiana Space Center, Korou, Guyana Prancis, Satelit Pleiades Neo sukses bergerak menuju orbit menggunakan roket peluncur Vega Flight VV18 yang dioperasikan oleh Arianespace (sebuah perusahaan peluncur satelit).

Satelit Pleiades Neo sendiri merupakan satelit komersial terbaru dan tercanggih yang dimiliki oleh perusahaan Airbus Defence & Space asal Prancis. Rencananya 4 Satelit Pleiades Neo akan mengorbit di luar angkasa untuk membuat sebuah konstelasi satelit penghasil citra dengan resolusi spasial mencapai 30 cm, dengan kapasitas perekaman dapat menyentuh 2 juta km2 per harinya.

BACA JUGA:
1). Interpretasi Citra Penginderaan Jauh (Lengkap Disertai Contoh)[Bagian 1]

2). Penginderaan Jauh

3). Citra Pleiades

4). Airbus DS Bersiapsiap dengan Konstelasi Satelit Pleiades Neo, Maxar Siapkan Tandingannya dengan Konstelasi 6 Satelit Baru

5). SiapSiap!, Bakal Tersedia Citra Satelit dengan Resolusi 15 cm

Penomoran Satelit Pleiades Neo berawal dari angka 3, oleh karenanya satelit pertama yang berhasil meluncur bernama Satelit Pleiades Neo 3. Jika tidak ada aral melintang, maka nantinya Satelit Pleiades Neo 4 akan meluncur juga pada tahun 2021 ini, sedangkan Satelit Pleiades Neo 5 dan 6 menyusul pada tahun 2022 mendatang.

Suasana Saat Satelit Pleaides Neo 3 Dimasukkan Ke Dalam Sebuah Kapsul
Suasana Saat Satelit Pleaides Neo 3 Dimasukkan Ke Dalam Sebuah Kapsul
(Image Copyright: CNES-ESA-ARIANESPACE)

Sinyal telemetri pertama dari Satelit Pleiades Neo 3 diterima pada pagi hari-nya, dengan susunan panel surya sudah difungsikan. Kegiatan fase orbit awal telah dimulai melalui perintah dari pusat kendali milik Airbus Defence & Space yang berada di Toulouse, Prancis, yang dilakukan untuk mempersiapkan akuisisi citra satelit pertama yang direkam oleh Satelit Pleiades Neo 3, pada pekan selanjutnya. Fase kalibrasi dalam orbit akan dilakukan sebelum citra satelit hasil perekaman dipasarkan secara luas.

Satelit Pleiades Neo yang didanai, diproduksi, dioperasikan, dan dimiliki sepenuhnya oleh Airbus Defence & Space, dirancang dengan masa hidup selama 15 tahun ke depan, atau perkiraan akan berhenti beroperasi setidaknya pada tahun 2036 dan 2037 mendatang.

Citra Satelit Pertama dari Satelit Pleiades Neo

Sepekan setelah peluncuran, Satelit Pleiades Neo 3 berhasil merekam tampilan permukaan bumi.

Dan berikut ini beberapa wilayah hasil perekaman Satelit Pleiades Neo 3:

*)Catatan: Citra satelit sudah mengalami kompresi supaya ukurannya tidak terlalu besar, serta belum dilakukan koreksi radiometrik dan geometrik oleh pihak Airbus Defence & Space.

Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan di Wilayah Dubai, Uni Emirat Arab
Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan di Wilayah Dubai, Uni Emirat Arab
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)
Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan Piramida Giza di Kairo, Mesir
Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan Piramida Giza di Kairo, Mesir
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)
Satelit Pleiades Neo 3 Menunjukkan Castel Sant’ Angelo di Roma, Italia
Satelit Pleiades Neo 3 Menunjukkan Castel SantAngelo di Roma, Italia
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)
Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan Wilayah Shanghai, China
Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan Wilayah Shanghai, China
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)
Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan Wilayah Washington DC, Amerika Serikat
Satelit Pleiades Neo 3 Memperlihatkan Kenampakan Wilayah Washington DC, Amerika Serikat
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)

Teknologi Satelit Pleiades Neo

Pleiades Neo dilengkapi dengan teknologi terkini dari Laser Communication Technology yang memberikan keuntungan kepada para pelanggan berupa kecepatan transmisi data yang sangat luar biasa.

Dengan penggunaan Laser Communication Technology yang telah disinggung di atas, kecepatan transmisi data dapat mencapai 1.8 Gbit per detik dan posisi orbit geostasioner dari satelit relay, yang memungkinkan transmisi data mencapai 40 Tb per hari ke Bumi secara quasirealtime, yang sangat berlawanan dengan kondisi satelit saat ini yang terkadang mencapai keterlambatan transmisi data hingga beberapa jam lamanya.

Pleiades Neo akan menggunakan SpaceDataHighway untuk memastikan sistem reaktivitas tertinggi, latensi (jeda waktu pengiriman data) terendah, dan volume tinggi untuk transfer data. Dan penggunaan SpaceDataHighway oleh Pleiades Neo menjadikannya sebagai satelit komersial pertama yang menggunakan teknologi tersebut.

SpaceDataHighway yang dikenal juga sebagai European Data Relay System (EDRS), dikembangkan oleh European Space Agency (ESA) dan Airbus Defence & Space, melalui kerjasama dalam bentuk PublicPrivate Partnership (PPP). Kehadiran teknologi ini selain memberi manfaat bagi Pleiades Neo, juga bagi Satelit Sentinel yang merupakan bagian dari Program Copernicus-nya ESA.

SpaceDataHighway
SpaceDataHighway
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)

Keempat Satelit Pleiades Neo akan dilengkapi dengan terminal reaktif Ka-band yang memungkinkan pengambilan data update pada menit-menit akhir, bahkan jika satelit berada di luar garis pengamatan stasiun bumi (ground stations). Hal ini sangat bermanfaat bagi pelanggan dan pihak-pihak yang ingin segera mendapatkan data perekaman terbaru khususnya ketika musibah besar atau bencana alam terjadi ataupun untuk kepentingan mendesak militer maupun sipil.

Keberadaan terminal laser generasi selanjutnya yang terintegrasi pada Satelit Pleiades Neo, akan membuat pengoptimalan dalam hal daya dan mengurangi 60 persen massa serta ukuran dibandingkan dengan penggunaan terminal yang sedang digunakan saat ini. Terminal ini dirancang oleh Tesat Spacecom dan dikembangkan di bawah kerjasama antara German Aerospace Centre (DLR) dan Airbus Defence & Space.

Wahana Satelit Pleiades Neo

Wahana Satelit Pleiades Neo dibuat berdasarkan penyempurnaan bus satelit optik S950. Dengan desain yang inovatif, wahana Satelit Pleiades Neo dapat menghasilkan kinerja maksimal, dengan kapasitas hasil pencitraan lebih baik, dapat melakukan transmisi naik dan turun, kelincahan, serta desain yang kompak (dengan massa 750 kg dan kelas anggaran daya 1 kW).

Ilustrasi Tampilan Satelit Pleiades Neo
Ilustrasi Tampilan Satelit Pleaides Neo
(Image Copyright: Airbus Defence & Space)

Satelit Pleiades Neo Sebagai Penantang Satelit WorldView-3 dan WorldView Legion

Saat ini persaingan untuk mendominasi pasar citra satelit resolusi sangat tinggi diperebutkan utamanya oleh perusahaan Maxar Technologies asal Amerika Serikat lewat 4 satelit penghasil citra optis dengan resolusi sangat tinggi yang terdiri dari Satelit WorldView-3, WorldView-2, WorldView-1, dan GeoEye-1, serta perusahaan asal Prancis yakni Airbus Defence & Space.

Awalnya sendiri “kue” untuk pasar citra satelit resolusi tinggi dikuasai oleh perusahaan Maxar Technologies (sebelum diakuisisi bernama DigitalGlobe), sebelum akhirnya perusahaan Airbus Defence & Space (dahulu bernama Astrium) meluncurkan Satelit Pleiades-1A dan Pleiades-1B yang menghasilkan citra dengan resolusi spasial kelas 50 cm (0.5 m), yang dilengkapi oleh Satelit SPOT-6 dan SPOT-7 yang memproduksi citra satelit dengan resolusi spasial kelas 1.5 meter. “Kue” yang selama ini hampir dinikmati sendiri oleh Maxar Technologies, mulai tergerus dengan kehadiran kompetitor berat yang hadir belakangan.

Untuk kembali unggul dalam persaingan tersebut, Maxar Technologies melakukan petisi kepada pemerintah Amerika Serikat supaya dilakukan peningkatan pembatasan tingkat kelas resolusi spasial dari citra satelit yang dijual secara bebas kepada masyarakat umum, berhubung terdapat aturan di Amerika Serikat bahwa citra satelit yang mempunyai resolusi spasial lebih tinggi di atas 50 cm, maka harus dilakukan resampling, setidaknya pada resolusi spasial kelas 50 cm. Hasilnya pada tahun 2014, Departemen Perdagangan Amerika Serikat dan juga National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengabulkan keinginan dari Maxar Technologies (ketika melakukan petisi, perusahaan masih bernama DigitalGlobe).

Setelah mendapatkan relaksasi terkait tingkat resolusi spasial dari pemerintah Amerika Serikat, Maxar Technologies meluncurkan Satelit WorldView-3 pada 13 Agustus 2014 dan juga Satelit WorldView-4 pada 11 November 2016. Kedua satelit tersebut dapat menghasilkan citra dengan resolusi spasial mencapai 31 cm pada keadaan nadir.

Sayangnya Satelit WorldView-4 mengalami kerusakan sehingga harus berhenti beroperasi pada awal tahun 2019 yang lalu, sehingga praktis saat ini hanya Satelit WorldView-3 saja yang beroperasi menghasilkan citra dengan tingkat resolusi spasial dapat menyentuh 31 cm dalam posisi nadir.

Keberadaan Satelit WorldView-3 dan juga Satelit WorldView-4, direspon oleh Airbus Defence & Space, dengan rencana pembuatan konstelasi satelit penghasil citra dengan resolusi spasial mencapai 30 cm pada keadaan nadir, yang telah dirancang beberapa tahun yang lalu. Dan akhirnya, seperti telah dibahas pada awal postingan, satelit penantang untuk WordlView-3 dan WorldView-4 dari Airbus Defence & Space yang bernama Satelit Pleiades Neo, salah satunya telah berhasil mengorbit di luar angkasa.

Maxar Technologies tentunya juga tidak tinggal diam dengan pergerakan pesaingnya. Semenjak rencana pembuatan konsetelasi Satelit Pleiades Neo oleh perusahaan Airbus Defence & Space, Maxar Technologies juga merancang konstelasi satelit penghasil citra dengan resolusi spasial kelas 30 cm yang mereka beri nama WorldView Legion.

Satelit WorldView Legion
WorldView Legion
(Image Copyright: Maxar Technologies)

Konstelasi WorldView Legin terdiri dari 6 satelit identik yang menghasilkan citra dalam moda multispektral dengan resolusi spasial kelas 50 cm (0.5 m) dan moda pankromatik dengan resolusi spasial kelas 30 cm (0.3 m).

Rencananya, seluruh 6 Satelit WorldView Legion akan diluncurkan pada tahun 2021 ini. Satelit ini akan menggunakan kendaraan peluncur berupa dua roket Falcon-9 v1.2 (Blok 5), dan nantinya dua satelit akan mengorbit pada orbit polar dan empat satelit lainnya mengorbit pada posisi 45 derajat orbit, serta mempunyai waktu kembali ke tempat semula (revisit time) 40 kali dalam satu hari. Menarik sekali tentunya duel head to head antara dua perusahaan besar di bidang antariksa ini dalam memenangi pasar citra satelit resolusi sangat tinggi, terutama setelah mereka memiliki satelit penghasil citra dengan resolusi spasial yang setara.

Spesifikasi Satelit Pleiades Neo

Video Terkait Satelit Pleiades Neo

POSTINGAN MENARIK LAINNYA:
1). [Tutorial] Download dan Olah Data DEMNAS

2). [Tutorial] Menghitung Luas dan Panjang Sebuah Data Vektor di QGIS versi 3

3). [Tutorial] Mengetahui Suhu Permukaan Laut dari Citra Satelit MODIS Menggunakan QGIS

4). [Tutorial] Membuat Efek Bayangan Pada Data Citra Satelit Menggunakan QGIS

5). [Tutorial] Membuka File Geodatabase di QGIS versi 3.x


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: