Leave a comment

Inset Peta: Penjelasan dan Tutorial Pembuatannya di ArcGIS

Inset peta merupakan salah satu komponen yang biasa terdapat pada sebuah peta. Komponen ini berupa peta dengan ukuran lebih kecil daripada peta utama, yang umumnya  ditempatkan pada bagian pojok peta utama.

Jenis-Jenis Inset Peta

1). Inset Pembesaran Peta

Jenis inset ini dibuat untuk memperbesar atau memperjelas tampilan suatu area yang terdapat pada peta utama.

Contoh tampilan inset pembesaran peta dapat kita lihat seperti berikut ini:

Inset Pembesaran Peta
Gambar 1. Contoh Tampilan Peta Utama dengan Inset Pembesaran Peta

Gambar di atas memperlihatkan tampilan peta utama yang menampilkan data olahan Citra Satelit WorldView3 warna natural dengan resolusi spasial kelas 50 cm, beserta inset pembesaran peta.

Pada contoh di atas, peta utama dibuat pada skala 1 : 15.000, yang dapat dilihat pada bagian keterangan skala yang terletak di pojok kanan bawah peta utama.

Skala Peta Utama
Gambar 2. Skala Peta Utama

Pada peta utama terlihat terdapat sebuah area yang menjadi fokus perhatian yang ditandai oleh kotak berwarna merah. Tampilan objek pada area yang menjadi fokus perhatian tampak terlalu kecil pada peta utama, oleh karenanya dapat dibuat inset pembesaran peta pada skala yang lebih besar lagi, sehingga objeknya dapat terlihat lebih detail, seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

Inset Pembesaran Peta
Gambar 3. Inset Pembesaran Peta

Inset peta di atas dibuat pada skala yang lebih besar daripada peta utama yakni 1 : 5.000, sehingga kenampakan objek pada area yang menjadi fokus perhatian tampak lebih detail.

Pada pembuatan inset pembesaran peta, harus mencantumkan keterangan area yang menjadi fokus perhatian (misal daerah penelitian, area yang terkena longsor, dan lain sebagainya), skala yang digunakan, angka koordinat, judul peta inset, dan lain sebagainya, sehingga terdapat informasi yang dapat dipahami oleh user terhadap peta inset tersebut.

2). Inset Lokasi Wilayah  

Jenis inset ini dibuat untuk menunjukkan lokasi area yang berada pada peta utama pada cakupan wilayah yang lebih luas lagi.

Sebagai contoh, luasan area yang menjadi fokus perhatian hanya mencakup sebagian kecil wilayah pada sebuah kecamatan. Oleh karenanya, untuk melihat lokasi area yang menjadi fokus perhatian posisinya relatif terhadap wilayah lain pada cakupan yang lebih luas, kita dapat membuat sebuah inset peta pada tingkat lebih luas lagi, misalnya pada tingkat kabupaten, seperti contohnya ditunjukkan di bawah ini:

Inset Lokasi Wilayah
Gambar 4. Inset Lokasi Wilayah

Pada peta utama di atas, fokus area diperlihatkan oleh area berwarna merah yang berada di Kecamatan Parongpong, pada skala 1 : 50.000.

Kecamatan Parongpong sendiri merupakan kecamatan yang termasuk ke dalam Kabupaten Bandung Barat. Untuk memperlihatkan lokasi fokus area pada batas administrasi yang lebih luas lagi, maka dibuat inset peta dengan batas administrasi pada tingkat kabupaten.

Inset Lokasi Wilayah dengan Batas Administrasi Wilayah pada Tingkat Kabupaten
Gambar 5. Inset Lokasi Wilayah dengan Batas Administrasi Wilayah pada Tingkat Kabupaten

Skala pada inset peta tentunya lebih kecil dibandingkan skala peta utama, karena memperlihatkan area pada sebuah wilayah pada tingkat batas administrasi tertentu yang lebih luas lagi.

Pada contoh di atas, peta utama dibuat pada skala 1 : 50.000, sedangkan inset peta dibuat pada skala 1 : 500.000.

Inset peta yang menunjukkan lokasi sebuah area tidak mengharuskan untuk mengikutsertakan angkaangka koordinat ataupun skala-nya. Namun jika ingin memberikan informasi lebih detail kepada pembaca peta, maka dapat menyertakan komponenkomponen peta tersebut.

3). Inset Penyambung Wilayah

Jenis inset ini dibuat untuk menyambung wilayah lain yang terpencar untuk ikut ditampilkan pada halaman yang sama dengan peta utama. Hal ini terjadi karena skala yang digunakan pada peta utama tidak dapat menampilkan keseluruhan wilayah yang ingin ditampilkan pada ukuran kertas yang dipakai.

Contoh terkait inset penyambung wilayah ini, dapat kita lihat pada contoh di bawah ini:

Peta Utama dan Inset Peta Penyambung Wilayah
Gambar 6. Peta Utama dan Inset Peta Penyambung Wilayah

Gambar di atas memperlihatkan peta batas administrasi Kabupaten Seram Bagian Barat. Terdapat pulaupulau kecil yang merupakan bagian dari Kabupaten Seram Bagian Barat yang lokasinya berjauhan yang tidak bisa ditampilkan pada peta utama, karena keterbatasan ukuran kertas yang digunakan pada skala tertentu. Oleh karenanya dibuat inset peta yang menunjukkan pulau-pulau kecil tersebut.

Gambar 7. Inset Penyambung Wilayah

Berhubung inset peta merupakan satu kesatuan dengan peta utama, maka komponenkomponen peta lain seperti angka koordinat, keterangan skala yang digunakan, serta komponen lainnya, sebaiknya ikut ditampilkan.

BACA JUGA:

1). [Tutorial] Cara Download Peta RBI Gratis

2). [Tutorial] Menghitung Luas dan Panjang Sebuah Data Vektor di QGIS versi 3

3). [Tutorial] Mengetahui Suhu Permukaan Laut dari Citra Satelit MODIS Menggunakan QGIS

4). [Tutorial] Membuat Efek Bayangan Pada Data Citra Satelit Menggunakan QGIS

5). [Tutorial] Menampilkan Informasi Cuaca di QGIS

Tutorial Pembuatan Inset Peta di ArcGIS        

Setelah mempelajari apa itu pengertian inset serta berbagai jenisnya, berikutnya kita akan membuat sebuah tampilan peta dengan inset-nya menggunakan software ArcGIS.

Untuk contoh kali ini, kami akan membuat peta utama dengan jenis inset peta penyambung wilayah. Sebagai catatan, pembuatan peta ini hanya berfokus pada tampilan data pada peta utama dan juga inset peta.

Langkahlangkah pengerjannya adalah sebagai berikut:

1). Silahkan buka ArcMap.

Jika Anda belum memiliki software ArcGIS, Anda dapat order ke pihak ESRI Indonesia. Terdapat opsi pembelian software ArcGIS yang terjangkau, yaitu ArcGIS Personal Use, yang dapat diperoleh dengan harga ratusan ribu saja. Lisensi berlaku selama satu tahun.

Software ArcGIS dengan lisensi tersebut dapat Anda gunakan untuk keperluan mempelajari ArcGIS secara pribadi atau untuk kepentingan sosial kemanusiaan, namun tidak dapat digunakan untuk keperluan project komersial.

2). Setelah berada pada jendela tampilan utama ArcMap, masukkan data yang hendak kita tampilkan pada peta utama.

Pada tutorial kali ini, kami hendak menampilkan data vektor batas administrasi wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, dengan format Shapefile (.shp), dengan cara sebagai berikut:

Memasukkan Data Pada Lembar Kerja ArcMap
Gambar 8. Memasukkan Data ke Lembar Kerja ArcMap

Klik tool Add Data (ditunjukkan oleh angka 1 pada Gambar 8) pada bagian toolbar.

Selanjutnya akan muncul jendela tampilan Add Data. Pilih data yang hendak kita tampilkan pada peta utama dengan cara klik sekali hingga terseleksi (ditunjukkan oleh angka 2 pada Gambar 8) sampai nama file tersebut berada pada bagian input text Name (ditunjukkan oleh area berwarna biru pada Gambar 8).

Terakhir, klik tombol Add (ditunjukkan oleh angka 3 pada Gambar 8), sehingga nantinya data tersebut akan tampil pada lembar kerja ArcMap, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Gambar 9. Data Batas Administrasi Kabupaten Seram Bagian Barat Tampil Pada Lembar Kerja ArcMap

Pada Gambar 9 terlihat bahwa batas administrasi wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat meliputi pulaupulau kecil (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 9), yang jaraknya cukup berjauhan dengan pulau yang berukuran lebih besar (ditunjukkan oleh area berwarna ungu pada Gambar 9).

3). Selanjutnya kami akan membuat peta yang menampilkan kumpulan pulau terbesar untuk batas administrasi wilayah Kab. Seram Bagian Barat pada 1 halaman kertas ukuran A1 dengan skala 1:200.000.

Alihkan tampilan lembar kerja dari Data View menjadi Layout View.

Mengubah Tampilan Lembar Kerja dari Data View Menjadi Layout View
Gambar 10. Mengubah Tampilan Lembar Kerja dari Data View Menjadi Layout View

Pada bagian Toggle yang terletak di bagian kiri bawah tampilan antar muka ArcMap, klik pada bagian Layout View (ditunjukkan oleh angka 4 pada Gambar 10), sehingga kita berada pada tampilan pembuatan peta.

Atur ukuran kertas layout peta menjadi A1, dengan cara sebagai berikut:

Page and Print Setup
Gambar 11. Page and Print Setup…

Pada bagian menu bar, klik: File | Page and Print Setup… (ditunjukkan oleh angka 5 & 6 pada Gambar 11).

Setelahnya akan muncul jendela tampilan pengaturan Page and Print Setup, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Gambar 12. Pengaturan Ukuran Kertas Layout Peta
Gambar 12. Pengaturan Ukuran Kertas Layout Peta

Pada bagian Map Page Size, hilangkan centang pada bagian box Use Printer Paper Settings (ditunjukkan oleh angka 7 pada Gambar 12).

Pada bagian dropdown list Standard Sizes, pilih A1 (ditunjukkan oleh angka 8 pada Gambar 12).

Pada bagian Orientation, klik tombol radio Landscape (ditunjukkan oleh angka 9 pada Gambar 12), berhubung bentuk area-nya melebar ke samping.

Selesai melakukan pengaturan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 10 pada Gambar 12).

Berikutnya kita akan kembali menuju lembar kerja ArcMap, kemudian lakukan pengaturan sebagai berikut:

Pengaturan Skala dan Ukuran Data Frame Peta Utama
Gambar 13. Pengaturan Skala dan Ukuran Data Frame Peta Utama

Pada bagian input text Map Scale, isi dengan tulisan 200000, sehingga nantinya peta utama mempunyai skala 1 : 200,000 (ditunjukkan oleh angka 11 pada Gambar 13).

Setelahnya, atur posisi dan ukuran data frame peta utama, dengan cara seleksi terlebih dahulu data frame peta utama menggunakan Select Elements (ditunjukkan oleh angka 12 pada Gambar 13), kemudian klik data frame peta utama.

Setelah kita seleksi data frame peta utama, akan muncul titik-titik penyusun data frame tersebut. Atur posisi dan ukuran data frame peta utama pada bagian titik-titik tersebut (ditunjukkan oleh angka 13 pada Gambar 13), sehingga hampir memenuhi layout.

Berikutnya kita lakukan pengaturan tampilan data batas administrasi, sehingga nantinya nama kabupaten muncul serta mengubah pola garis tepi, seperti diperlihatkan gambar di bawah ini:

Properties
Gambar 14. Properties

Pada bagian Table Of Contents, seleksi layer dimana data berada, dengan cara klik sekali (ditunjukkan oleh angka 14 pada Gambar 14), kemudian klik kanan dan pilih Properties… (ditunjukkan oleh angka 15 pada Gambar 14), hingga muncul jendela tampilan pengaturan Layer Properties, seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah ini:

Gambar 15. Pengaturan Layer Properties

Setelah berada pada jendela tampilan pengaturan Layer Properties, klik tab Labels (ditunjukkan oleh angka 16 pada Gambar 15).

Centang pada bagian Label features in this layer (ditunjukkan oleh angka 17 pada Gambar 15), sehingga label pada data tampil pada lembar kerja ArcMap.

Pada bagian dropdown list Label Field, kami memilih field yang menampilkan nama kota atau kabupaten dari data tersebut (ditunjukkan oleh angka 18 pada Gambar 15).

Lakukan pengaturan tampilan tulisan label, seperti jenis font (ditunjukkan oleh area berwarna orange pada Gambar 15), ukuran font (ditunjukkan oleh area berwarna hitam pada Gambar 15), warna font (ditunjukkan oleh area berwarna biru pada Gambar 15), serta bentuk font seperti ditebalkan, menjadi miring, atau diberi garis bawah (ditunjukkan oleh area berwarna hijau pada Gambar 15).

Jika ingin label hanya tampil satu saja pada lembar kerja ArcMap, maka klik tombol Placement Properties… (ditunjukkan oleh angka 19 pada Gambar 15), sehingga nantinya akan muncul jendela pengaturan Placement Properties. Pada bagian Duplicate Labels, pilih tombol radio Remove duplicate labels (ditunjukkan oleh angka 20 pada Gambar 15). Jika sudah selesai, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 21 pada Gambar 15).

Kita juga bisa memberikan efek Halo pada tulisan yaitu warna yang muncul pada bagian luar atau tepi hurufhuruf penyusun tulisan, dengan cara sebagai berikut:

Membuat Efek Halo di ArcMap
Gambar 16. Membuat Efek Halo

Masih pada tab Labels (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 16), klik tombol Symbol… (ditunjukkan oleh angka 22 pada Gambar 16), hingga muncul jendela tampilan pengaturan Symbol Selector.

Berikutnya, klik tombol Edit Symbol… (ditunjukkan oleh angka 23 pada Gambar 16), sampai muncul jendela tampilan pengaturan Editor.

Selanjutnya, klik tombol Mask (ditunjukkan oleh angka 24 pada Gambar 16), kemudian pilih tombol radio Halo (ditunjukkan oleh angka 25 pada Gambar 16).

Kita bisa melakukan pengaturan ukuaran pemberian efek Halo pada bagian Size (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 16).

Selesai melakukan pengaturan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 26 pada Gambar 16).

Kita juga dapat membuat tampilan garis tepi dari batas administrasi misalnya sesuai dengan aturan simbologi dari Badan Informasi Geospasial (BIG), seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

Pengubahan Bentuk Garis Tepi Batas Administrasi di ArcMap
Gambar 17. Pengubahan Bentuk Garis Tepi Batas Administrasi

Untuk tutorial pengubahan bentuk garis tepi batas administrasi sesuai dengan aturan teknis dari BIG ini, Insya Allah, akan dibahas pada tutorial tersendiri. Oleh karena itu, jika Anda belum mempunyai style simbologi dari BIG, batas garis tepi untuk saat ini cukup dapat berupa garis yang solid tanpa putus-putus.

Berikutnya, kita akan membuat grid peta utama, dengan cara sebagai berikut:

Gambar 18. Properties

Seleksi data frame utama, dengan cara klik sekali menggunakan tool Select Elements (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 18), sampai titiktitik penyusun data frame terlihat (ditunjukkan oleh angka 27 pada Gambar 18).

Berikutnya, klik kanan dan pilih Properties… (ditunjukkan oleh angka 28 pada Gambar 18), hingga nantinya muncul jendela tampilan pengaturan Data Frame Properties, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Data Frame Properties
Gambar 19. Data Frame Properties

Pada jendela tampilan pengaturan Data Frame Properties, klik tab Grids (ditunjukkan oleh angka 29 pada Gambar 19), kemudian klik tombol New Grid… (ditunjukkan oleh angka 30 pada Gambar 19), hingga muncul jendela tampilan pengaturan Grids and Graticules Wizard, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Grids and Graticule Wizard
Gambar 20. Grids and Graticule Wizard

Pilih tombol radio Graticule divides map by meridians and parallels (ditunjukkan oleh angka 31 pada Gambar 20), berhubung data mempunyai sistem proyeksi Geodetik. Selanjutnya klik tombol Next > (ditunjukkan oleh angka 32 pada Gambar 20).

Tahapan Grids and Graticule Wizard
Gambar 21. Tahapan Grids and Graticule Wizard

Pada tahapan selanjutnya, klik tombol Next > hingga tahapan terakhir klik tombol Finish (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 21), karena pengaturan lebih lanjut akan dilakukan setelahnya.

Pengaturan Grid di ArcMap
Gambar 22. Pengaturan Grid

Kembali ke tampilan awal tab Grids (ditunjukkan oleh area bewarna merah pada Gambar 22), pembuatan grid yang telah dibuat sebelumnya telah terdapat dalam daftar (ditunjukkan oleh area berwarna hijau pada Gambar 22).

Selanjutnya kita lakukan pengaturan grid tersebut dengan klik tombol Properties… (ditunjukkan oleh angka 33 pada Gambar 22), hingga muncul jendela tampilan pengaturan Reference System Properties, seperti ditunjukkan gambar di bawah:

Pengaturan Interval Grid
Gambar 23. Pengaturan Interval Grid

Pertama, kita atur interval grid, dengan klik bagian tab Intervals (ditunjukkan oleh angka 34 pada Gambar 23), kemudian tentukan interval grid-nya.

Berhubung data yang digunakan dalam sistem proyeksi Geodetik, maka interval ditentukan dalam derajat, menit, dan detik. Dan untuk tutorial kali ini, kami membuat interval dalam 20 menit (ditunjukkan oleh angka 35 pada Gambar 23).

Pengaturan Lines di ArcMap
Gambar 24. Pengaturan Lines

Beralih ke tab Lines (ditunjukkan oleh angka 36 pada Gambar 24), kita lakukan pengaturan tampilan grid. Pada kesempatan kali ini, kami memilih tampilan grid berupa ticks, sehingga kami memilih tombol radio Show as a grid of ticks (ditunjukkan oleh angka 37 pada Gambar 24).

Kita dapat mengubah ukuran dan simbol dari ticks, dengan cara klik tombol Symbol (ditunjukkan oleh angka 38 pada Gambar 24), hingga muncul jendela tampilan pengaturan Symbol Selector.

Berikutnya, kami hanya ingin mengubah ukuran ticks, oleh karenanya kami mengubah ukuran ticks menjadi 3 pada bagian Size (ditunjukkan oleh angka 39 pada Gambar 24).

Selesai melakukan pengaturan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 40 pada Gambar 24).

Pengaturan Label Grid
Gambar 25. Pengaturan Label Grid

Berikutnya menuju tab Labels (ditunjukkan oleh angka 41 pada Gambar 25), pada bagian ini kita akan melakukan pengaturan tampilan label nilai koordinat pada grid.

Pada bagian Label Style, kita dapat memilih font label yang kita inginkan (ditunjukkan oleh area berwarna hijau pada Gambar 25), ukuran label (ditunjukkan oleh area berwarna biru pada Gambar 25), warna font label (ditunjukkan oleh area berwarna ungu pada Gambar 25), serta jarak label terhadap sumbu grid atau data frame, dimana semakin besar nilainya, maka jaraknya akan semakin jauh dengan sumbu grid atau data frame (ditunjukkan oleh area berwarna hitam pada Gambar 25).

Pada bagian Vertical Labels pada Label Orientation, beri tanda centang pada bagian Left dan Right (ditunjukkan oleh angka 42 pada Gambar 25), sehingga label pada bagian kiri dan kanan data frame akan ditampilkan secara vertikal.

Anda dapat melakukan pengaturan lainnya pada tabtab lain yang berada pada jendela tampilan pengaturan Reference System Properties.

Selesai melakukan pengaturan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 43 pada Gambar 25).

Hasil pengaturan akan tampak seperti gambar di bawah ini:

Hasil Pengaturan Label
Gambar 26. Hasil Pengaturan Label

Terlihat dari Gambar 26 di atas, label berupa nama kabupaten dan titik koordinat sudah tampak pada lembar kerja ArcMap, yang jelasnya dapat dilihat pada Gambar 27 dan Gambar 28 di bawah ini:

Label Nama Kabupaten
Gambar 27. Label Nama Kabupaten
Label Nilai Koordinat
Gambar 28. Label Nilai Koordinat

Selanjutnya kita akan menambahkan komponen peta lain seperti scale bar dan orientasi peta.

North Arrow
Gambar 29. North Arrow

Untuk menambahkan komponen peta berupa orientasi peta, kita dapat klik pada bagian menu bar: Insert | North Arrow… (ditunjukkan oleh angka 44 dan 45 pada Gambar 29), hingga muncul jendela tampilan pengaturan North Arrow Selector, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

North Arrow Selector
Gambar 30. North Arrow Selector

Pilih simbol North Arrow yang kita kehendaki, dengan cara klik sekali (ditunjukkan oleh angka 46 pada Gambar 30). Simbol North Arrow menunjukkan posisi utara peta.

Selesai melakukan pemilihan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 47 pada Gambar 30), sehingga simbol tersebut berada pada lembar kerja ArcMap, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Pengaturan North Arrow
Gambar 31. Pengaturan North Arrow

Atur ukuran dan posisi dari simbol North Arrow (ditunjukkan oleh angka 49 pada Gambar 31), dengan menggunakan Select Elements (ditunjukkan oleh angka 48 pada Gambar 31).

Berikutnya, kita akan menampilkan komponen skala, dimana pada tutorial kali ini, kami akan menampilkan skala batang yang menunjukkan jarak sebenarnya pada kenyataan dan juga jarak pada peta. Namun untuk kesempatan kali ini, kami hanya akan menampilkan skala batang untuk memperlihatkan jarak sebenarnya di lapangan atau kenyataan.

Kembali ke bagian menu bar Insert, kemudian klik Scale Bar…, hingga muncul jendela tampilan pengaturan Scale Bar Selector, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Scale Bar Selector
Gambar 32. Scale Bar Selector

Pilih tampilan skala batang yang diinginkan dengan cara klik sekali, dimana pada tutorial kali ini, kami memilih Double Alternating Scale Bar 2 Metric (ditunjukkan oleh angka 50 pada Gambar 32).

Berikutnya, lakukan pengaturan skala batang tersebut dengan klik tombol Properties… (ditunjukkan oleh angka 51 pada Gambar 32), hingga muncul jendela tampilan pengaturan Scale Bar, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Scale and Units
Gambar 33. Scale and Units

Pastikan sudah berada pada tab Scale and Units (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 33).

Pada bagian Number of divisions, isi dengan angka 1 (ditunjukkan oleh angka 52 pada Gambar 33), sedangkan bagian Number of subdivisions, diisi dengan angka 2 (ditunjukkan oleh angka 53 pada Gambar 33). Dengan demikian skala batang akan terdiri dari 1 divisi yang dibagi menjadi 2 bagian subdivisi.

Berikutnya, hilangkan centang bagian Show one division before Zero (ditunjukkan oleh area berwarna hitam pada Gambar 33), sehingga posisi angka 0 berada di bagian ujung sebelah kiri skala batang.

Selanjutnya, pada bagian dropdown list Division Units, pilih Kilometers (ditunjukkan oleh angka 54 pada Gambar 33), sehingga satuan jarak yang digunakan pada skala yakni dalam kilometer.

Pada bagian Label Position, posisikan label satuan jarak berada setelah label dari nilai skala batang, dengan memilih opsi after labels (ditunjukkan oleh angka 55 pada Gambar 33).

Pada bagian input text Label, isi dengan tulisan Km (ditunjukkan oleh angka 56 pada Gambar 33), sehingga tulisan yang tampil untuk satuan jarak yang digunakan yaitu Km, yang merupakan singkatan dari Kilometer.

Pada bagian Gap, atur jarak tulisan label satuan jarak dengan posisi skala batang, dengan mengisi angka pada bagian input text (ditunjukkan oleh angka 57 pada Gambar 33), dimana semakin besar nilainya maka posisi tulisan label dengan skala batang semakin jauh.

Selanjutnya, kita beralih ke tab Format (ditunjukkan oleh angka 58 pada Gambar 33), seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Format Scale Bar
Gambar 34. Format Scale Bar

Pada bagian Text, kita bisa memilih font label pada bagian Font (ditunjukkan oleh area berwarna biru pada Gambar 34), kemudian ukuran font label pada bagian Size (ditunjukkan oleh area berwarna ungu pada Gambar 34),  warna label pada bagian Color (ditunjukkan oleh area berwarna hitam pada Gambar 34), serta bentuk tulisan label seperti tebal, miring, dan diberi garis bawah (ditunjukkan oleh area berwarna hijau pada Gambar 34).

Pada bagian Bar, kita bisa memilih warna batang pada bagian Color (ditunjukkan oleh area berwarna kuning pada Gambar 34), serta ukurannya pada bagian Size (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 34).

Anda dapat melakukan pengaturan lainnya, pada tabtab yang tersedia. Namun untuk tutorial kali ini, pengaturan kami cukupkan sampai tahap ini.

Selesai melakukan pengaturan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 59 pada Gambar 34). Setelahnya, skala batang hasil pengaturan akan tampil pada lembar kerja ArcMap, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Pengaturan Posisi Skala Batang dan North Arrow
Gambar 35. Pengaturan Posisi Skala Batang dan North Arrow

Atur posisi skala batang di samping simbol North Arrow dengan menggunakan tool Select Elements.

Selanjutnya kita berikan keterangan skala, sistem proyeksi, serta datum, dengan cara sebagai berikut:\

Pemberian Keterangan Skala
Gambar 36. Pemberian Keterangan Skala

Pada bagian toolbar Draw, klik Text (ditunjukkan oleh angka 60 pada Gambar 36). Toolbar Draw dapat dimunculkan dengan cara klik pada bagian menu bar: Customize | Toolbars | Draw.

Berikutnya akan tampil tulisan Text pada lembar kerja ArcMap. Klik dua kali pada tulisan Text tersebut (ditunjukkan oleh angka 61 pada Gambar 36), untuk melakukan editing.

Selanjutnya, akan muncul jendela tampilan pengaturan Properties. Pastikan berada pada tab Text (ditunjukkan oleh area berwarna ungu pada Gambar 36), kemudian tulis Skala 1:200.000 pada bagian input text (ditunjukkan oleh angka 62 pada Gambar 36).

Kita dapat melakukan pengaturan posisi teks, apakah rata kiri (align left), rata kanan (align right), tengah (center), atau rata kirikanan (justify) (ditunjukkan oleh area bewarna hijau pada Gambar 36).

Untuk pengaturan jarak antar huruf, dapat dilakukan pada bagian Character Spacing (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 36), dan jarak tulisan antara baris bagian atas dengan bagian bawah pada bagian Leading (ditunjukkan oleh area berwarna biru pada Gambar 36).

Selesai melakukan pengaturan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 63 pada Gambar 36), dimana hasilnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Penempatan Posisi Tulisan Skala
Gambar 37. Penempatan Posisi Tulisan Skala

Atur posisi tulisan skala di tengahtengah skala batang, dengan menggunakan tool Select Elements.

Dengan cara yang hampir sama, buat keterangan untuk sistem proyeksi dan datum, sehingga terlihat seperti pada gambar di bawah ini:

Tulisan Keterangan untuk Sistem Proyeksi dan Datum
Gambar 38. Tulisan Keterangan untuk Sistem Proyeksi dan Datum

Selanjutnya, buat warna latar belakang dari data batas administrasi Kab. Seram Bagian Barat berwarna biru, yang menunjukkan area lautan, dengan cara sebagai berikut:

Gambar 39. Properties

Seleksi data frame utama dengan cara klik sekali menggunakan tool Select Elements (ditunjukkan oleh angka 64 pada Gambar 39), kemudian klik kanan dan pilih Properties… (ditunjukkan oleh angka 65 pada Gambar 39), hingga muncul jendela tampilan pengaturan Data Frame Properties, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Gambar 40. Background

Pastikan sudah berada pada tab Frame (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 40).

Berikutnya, pada bagian dropdown list Background, pilih warna yang mendekati warna lautan, dimana pada tutorial kali ini kami memilih Lt Blue (ditunjukkan oleh angka 66 pada Gambar 40).

Selesai melakukan pengaturan, klik tombol OK (ditunjukkan oleh angka 67 pada Gambar 40). Hasil pengaturan, akan tampak seperti gambar di bawah ini:

Hasil Pengaturan Warna Background
Gambar 41. Hasil Pengaturan Warna Background

4). Berikutnya, kita akan membuat inset peta yang menunjukkan wilayah lain yang merupakan bagian dari Kab. Seram Bagian Barat, yang tidak terlihat pada peta utama.

Buat data frame baru yang akan berisikan wilayah lain dari Kab. Seram Bagian Barat yang tidak terlihat pada peta utama, dengan cara klik pada menu bar: Insert | Data Frame, hingga nantinya akan muncul data frame baru pada lembar kerja ArcMap, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Data Frame Baru pada Lembar Kerja ArcMap
Gambar 42. Data Frame Baru pada Lembar Kerja ArcMap

Atur ukuran dan posisi data frame baru tersebut menggunakan tool Select Elements (ditunjukkan oleh angka 68 pada Gambar 42).

Berhubung data frame baru ini merupakan sebuah inset peta, ukurannya tentu saja lebih kecil dibandingkan data frame utama, sedangkan untuk posisinya, kami tempatkan di bagian ujung kiri bawah dari data frame utama.

Selanjutnya, isi data frame baru tersebut, dengan data batas administrasi Kab. Seram Bagian Barat.

Copy Paste Data
Gambar 43. Copy Paste Data

Copy data batas administrasi Kab. Seram Bagian Barat yang berada pada layer data frame utama di Table Of Contents dengan cara klik sekali layer tersebut (ditunjukkan oleh angka 69 pada Gambar 43), selanjutnya klik kanan dan pilih Copy (ditunjukkan oleh angka 70 pada Gambar 43).

Paste data batas administrasi Kab. Seram Bagian Barat ke layer data frame baru yang merupakan inset peta, dengan cara klik sekali pada layer tersebut (ditunjukkan oleh angka 71 pada Gambar 43), kemudian klik kanan dan pilih Paste Layer(s) (ditunjukkan oleh angka 72 pada Gambar 43).

Setelah data batas administrasi Kab. Seram Bagian Barat sudah berada pada data frame inset peta, atur tampilan data tersebut, sehingga yang tampil adalah wilayah lain yang tidak terlihat pada data frame utama, dengan menggunakan tool Zoom In dan Pan, seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:

Tool Pan dan Zoom In
Gambar 44. Tool Pan dan Zoom In

Pada bagian toolbar, kita dapat melakukan pergeseran data batas administrasi yang terdapat pada data frame baru dengan menggunakan tool Pan (ditunjukkan oleh area berwarna merah pada Gambar 44), dan melakukan pembesaran tampilan menggunakan tool Zoom In (ditunjukkan oleh area berwarna biru pada Gambar 44) serta pengecilan tampilan menggunakan tool Zoom Out (ditunjukkan oleh area berwarna hijau pada Gambar 44).

Hasilnya akan tampil seperti gambar di bawah ini:

ilan Wilayah Lain Pada Kab. Seram Bagian Barat di Data Frame Baru
Gambar 45. Hasil Pengaturan Tampilan Wilayah Lain Pada Kab. Seram Bagian Barat di Data Frame Baru

Lakukan pengaturan mulai dari ukuran label untuk nama kabupaten, garis tepi, warna background, pembuatan grid, pemberian komponen North Arrow dan Scale Bar, serta hal lain yang telah kita lakukan sebelumnya pada data frame utama, di data frame yang baru atau inset peta, sehingga hasil akhirnya akan terlihat seperti berikut:

Gambar 46. Tampilan Inset Peta

Tampilan data frame utama dan data frame untuk inset peta akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Gambar 47. Tampilan Peta Utama dan Inset Peta Penyambung Wilayah

Sekian postingan mengenai inset peta. Semoga bermanfaat. Jika Anda merasa postingan ini bermanfaat, silahkan share di media sosial yang Anda miliki, sehingga mereka yang sedang mencari postingan terkait tema ini dapat mengetahuinya.

Jika ada yang hendak ditanyakan, atau ada saran untuk postingan selanjutnya, silahkan berkomentar pada kolom komentar yang ada di bawah.

POSTINGAN MENARIK LAINNYA:

1). Paru-Paru Dunia Terbakar Hebat

2). Satelit Pesaing WorldView-3 Siap Meluncur, Sehari Bisa Merekam Sampai 2 Juta Kilometer Persegi

3). Citra Satelit Analisis Keberadaan Kim Jong Un

4). Kota Ini Sekarang Bak Kota Hantu. Sepinya Dapat Dilihat dari Citra Satelit

5). DEM Gratis dari ESA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: